Peran Umat Islam yang Sudah Dilupakan Negara

Peran Umat Islam yang Sudah Dilupakan Negara

12

Peran Pra Kemerdekaan

Negara, dengan berbagai komponen penyelenggaranya mulai melupakan peran Umat Islam dengan segala perjuangannya. Tengoklah peran Islam dalam membebaskan tanah air dari kungkungan penjajah yang membawa misi penyebaran agama Kristen. Sejak abad 15, kedatangan penjajah sudah mulai mengusik pribumi yang aman damai dalam menjalankan kehidupannya. Dengan dalih awal adalah misi perdagangan, mereka mulai menguasai sektor perdagangan dengan melakukan monopoli. Posisi penjajah semakin menguat dengan peran aktif para pengkhianat yang membela dan mengokohkan eksistensi penjajah dengan imbalan yang tidak seberapa. Pengkhianat-pengkhianat ini bahkan lebih kejam dari penjajah tersebut, bahkan jauh lebih tega karena mengorbankan saudara sendiri demi menjilat penjajah.

Yang berani memberontak, melawan hegemoni penjajah, dari penjuru barat sampai timur nusantara 99 persen adalah umat islam, terutama pelopor perjuangannya. Ini karena keyakinan bahwa membela tanah air adalah sebagian dari keimanan. Bahwasanya segenap perjuangan mempertahankan eksistensi tanah air dalam koridor keimanan dan tauhid adalah jihad fii sabiilillah, perang di jalan Allah SWT. Suatu ibadah yang berpahala paling tinggi dibandingkan ibadah apapun. Ini disadari betul oleh pejuang-pejuang seperti : Imam Bonjol, Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Pattimura, Sultan Baabullah, Sultan Hairun, Hasanuddin, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sultan Ageng Tirtayasa, Pati Unus, Fatahillah, CIk Di Tiro, dan jutaan pejuang lain yang tidak daat disebutkan karena banyaknya.

Kemerdekaan yang diagung-agungkan dan tidak boleh diperkosa oleh siapapun, adalah kemerdekaan dalam bertauhid kepada Allah SWT. Penjajah, dengan segala bentuknya, mencoba merampas kemerdekaan tersebut, bahkan sambil menyebarkan agama Kristen di tengah-tengah penduduk Indonesia. Selama lebih dari 350 tahun, perlawanan terhadap penjajah Inggris, Portugis, Belanda, dan Jepang tidak padam sedikitpun. Moral tetap terjaga tinggi.

Peran Pasca kemerdekaan
Kini, setelah perang memperebutkan kemerdekaan selama lebih dari tiga setengah abad, kemerdekaan berhasil direbut. Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, yang bukan merupakan kebetulan bahwa hari itu adalah tanggal 17 Ramadhan, bertepatan dengan hari nuzulul quran, turunnya Al-Quran pertama kali kepada umat manusia. Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim, mengambil momentum puncak kulminasi ini sebagai titik awal dalam membentuk sebuah negara baru yang merdeka, berdaulat dari negara lain.

Sepanjang berdirinya republik ini, banyak sekali pengorbanan umat Islam yang sudah dilakukan. Tengoklah perjuangan Bung Tomo dalam peristiwa 10 November yang dengan lantangnya mengajak berjihad mengusir tentara pendudukan Inggris dengan mengangkat senjata. Pekik Takbir menjadikan penyemangat dalam perang ini. Hasilnya, Mallaby terbunuh, Inggrispun angkat kaki.
Pengorbanan berikutnya, ketika agresi militer belanda ke-dua, Pak Dirman, seorang tokoh tentara Indonesia, dengan gagah berani mengambil sikap melawan tentara pendudukan belanda. Dengan diiringi pasukan Hisbullah dan rakyat, beliau menjalankan taktik perang gerilya dengan berjalan kaki dari Jawa Tengah, Yogya, hingga ke pedalaman Jawa Timur. Padahal fisik beliau sudah rapuh termakan penyakit. Sungguh perjuangan yang amat besar dan mendatangkan hasil hengkangnya Belanda dari bumi pertiwi.

Menjelang pergantian kekuasaan orde lama, Umat Islam juga berkorban, dengan menjadi tumbal permusuhan PKI yang banyak membunuh para ulama. Umat Islam membela keutuhan NKRI dengan mengusir PKI dan afiliasinya hingga habis. Pergantian kekuasaanpun berlangsung dari orde lama ke orde baru.Namun, peran Islam hanya menjadi pemanis di awal orde baru. Selanjutnya islam menjadi bulan-bulanan penguasa. Tengoklah kasus malari, tanjung priok, woyla, lampung, dan banyak lagi. Darah umat islam yang sudah berkorban sedemikian rupa untuk negeri, hanya dijadikan tumbal saja. Selanjutnya ditinggalkan dalam kancah kehidupan.

Pasca Reformasi
Ketika orde baru tumbang, terbitlah orde reformasi. Banyak daerah yang dulunya merasa terkungkung, kini merasa bebas. Akibatnya banyak kepentingan yang bermain. Yang terburuk adalah dengan memisahkan diri dari NKRI. Wacana pemisahan diri ini terjadi di daerah dengan penduduk Kristen yang sedikit lebih banyak dibandingkan dengan Muslim. Belum lagi ditambahi dengan bumbu-bumbu dari kalangan yang bermain dalam konflik. Akhirnya timbullah kerusuhan pertama di Ambon. Umat Islam mulai terdesak, Kristen hampir-hampir memenangkan perang horizontal tersebut. Hingga akhirnya datanglah bala bantuan. Bantuan itu datang dari sesama kaum muslim yang lebih berpengalaman dalam hal-hal semacam ini. Alhamdulillah, perlahan tapi pasti, umat islam yang diwakili Lasykar Mujahidin berhasil memporak-porandakan pertahanan Kristen yang selama ini dikenal tidak dapat dijebol. Satu poin untuk Islam karena berhasil membantu mempertahankan NKRI.

Lepas Maluku, terbitlah Poso. Di sana juga hampir terjadi hal yang sama. Namun bantuan dari umat islam yang berpengalaman membuat rencana-rencana makar dapat digagalkan hingga saat ini. Memang dalam kedua konflik tersebut, pengorbanan umat islam luar biasa banyak, korban meninggal mencapai belasan ribu lebih. Namun itu tidak menghalangi umat untuk berkorban lagi bila diperlukan.

Orde SBY

Di awal pemerintahannya, SBY dihadapkan pada tragedi yang paling mematikan sepanjang abad 21. Dalam waktu beberapa menit, sekitar 200.000 rakyat Indonesia habis, menjadi korban bencana Tsunami. Tidak pandang bulu, baik itu masyarakat biasa hingga pejabat semuanya terkena. Padahal waktu itu Aceh sedang mengalami konflik, ingin memisahkan diri dari NKRI, dan itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Di daerah Lhoknga, yang merupakan basis GAM dan juga basis TNI, tidak luput dari sapuan Tsunami tersebut. Kedua kubu banyak yang habis. Bahkan bangunan militer yang ada di sana tidak bersisa sama sekali, rata dengan tanah. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Untuk mengevakuasi, masing-masing pihak merasa ketakutan untuk melakukannya. Bila GAM mengevakuasi teman-temannya, takut menjadi sasaran peluru TNI/Polri, sementara bila tentara melakukannya, takut menjadi sasaran peluru GAM. Akhirnya, tampillah solusi akhir zaman. Saudara-saudara kita ummat islam yang diwakili oleh FPI (Front Pembela Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), melakukan evakuasi jenazah kedua kubu. Aman, semua terkendali. FPI yang selama ini nyinyir dikatakan orang sebagai ektrimis yang suka merusak tempat-tempat hiburan, malah mendapatkan kehormatan bahkan bisa mengidentifikasi jenazah salah satu petinggi Polri yang meninggal, Sayid Husaini. Begitu pula MMI yang selama ini diidentikkan dengan terorisme, terutama disangkutpautkan dengan pengeboman, malah semakin menunjukkan jiwa kesatrianya, melakukan evakuasi yang tidak semua orang berani dan tahan mental melakukannya. Bahkan penduduk lokal sendiri jarang yang berani melakukannya.

Kini, beberapa bulan terakhir afiliasi dari dua organisasi tersebut semakin dipinggirkan oleh penguasa, SBY dan alat-alat negaranya. FPI disudutkan pada waktu membubarkan demonstrasi AKBB di tugu monas yang berujung dipenjarakannya Habib Riziq Syihab dan Munarman selama beberapa bulan. Begitu pula MMI dengan amirnya, Ust. Abu Bakar Ba’asyir yang sempat dipenjara dua tahun tanpa ada tuduhan esensial yang terbukti. Selain itu, isu-isu terorisme masih sangat enteng dan gampang ditudingkan kepada umat islam.

Negara yang Bodoh

Negara dan penyelenggaranya bersikap bodoh, mencoba mempertanyakan sebab semakin maraknya pengikut yang dituding teroris tersebut. Padahal akar masalahnya tidak pernah dicoba diselesaikan. Ini tidak lain karena ibarat meludah ke wajah sendiri. Betapa tidak, faktor ketidak-adilan dalam segala sendi kehidupan, korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta keberpihakan penyelenggara negara kepada pihak pemodal besar dan asing, menjadi faktor besar timbulnya perlawanan dan simpati dari masyarakat.

Betapapun kerasnya aparat hukum memberangus, akan semakin banyak simpatisan yang bergabung. Apalagi akhir-akhir ini, di mana borok-borok penyelenggara negara semakin terbuka luas dan dalam, dan bahkan cenderung ditutupi dengan kasus terorisme ini. Polisi sebagai salah satu komponen penegak hukum yang diharapkan bisa mengayomi rakyat, bersih dan profesional, terbukti tidak mampu mewujudkan harapan-harapan tersebut. Tengoklah kasus Jenderal Susno yang ditutupi dengan dibungkam melalui penahanan agar tidak bernyanyi lebih lanjut. Padahal aparat perwira polisi yang sudah jelas terlibat dan nyata peranannya belum diproses menjadi tersangka. Juga aparat penegak hukum dari institusi lain.

Jadi, jangan salahkan masyarakat, dan jangan heran jika simpatisan yang disebut teroris tersebut semakin banyak, selama akar permasalahan esensial bangsa ini tidak diselesaikan.

Share
Posted in: islam, kepemimpinan, negara

This article has 12 comments

  1. qudama 09/23/2010, 04:12:

    terima kasih atas analisa yang jujur dan lugas ini. Allah Akbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*




You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>